Awak Miskin Bertambah, DPRD DKI Minta Pemprov Manfaatkan CSR

Awak Miskin Bertambah, DPRD DKI Minta Pemprov Manfaatkan CSR

WAKIL Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Bidang Perekonomian Abdul Aziz angkat bicara mengenai total penduduk miskin yang bertambah berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta.

Abdul Aziz mengatakan, untuk mengurangi jumlah penduduk miskin, Pemprov DKI Jakarta bisa melakukan kurang langkah, dimulai dari mendata dengan akurat warga yang tergolong bapet sesuai standar BPS. Kemudian bukti itu disinkronisasi dengan data pemerintah pusat.

“Untuk meningkatkan kesejahteraan warga pertama mengangkat derajat kehidupan warga bangsat, Pemprov DKI Jakarta bisa melakukannya melalui kerja sama dengan bagian swasta lewat dana tanggung berat sosial perusahaan atau CSR, ” kata Abdul Aziz saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (16/7).

Dana CSR ditambah dana bantuan dari Pemprov DKI Jakarta bisa digunakan buat memberi bantuan modal agar masyarakat bisa mendirikan usaha mikro mungil menengah (UMKM).

“Memberikan bantuan kredit minus bunga, tanpa agunan untuk UMKM sebagai stimulus untuk pertumbuhan ekonomi, ” jelas Abdul Aziz.

Membaca juga:   UI: Bantuan Konsumsi dan Modal Kerja, Kunci Tekan Kemiskinan

Pelibatan pihak ketiga yaitu kalangan profesional juga dibutuhkan untuk mendampingi dan memberikan edukasi kepada para warga yang merintis UMKM ini agar bisa berjalan mampu dan mampu menghadapi tantangan ke depan.

“Libatkan pihak ketiga profesional buat pendampingan usaha. Pemprov DKI pula bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga zakat dan LSM untuk memberikan bantuan, ” ujarnya.

Evaluasi program dan kebijakan ini juga harus dilakukan secara berkala guna melihat efektivitas dan manfaat yang diterima masyarakat.

Sebelumnya, BPS DKI Jakarta menyatakan jumlah warga miskin di Jakarta berserang 118 ribu orang menjadi 480 ribu orang pada Maret 2020. Jumlah tersebut setara dengan 4, 53% dari total penduduk dalam ibu kota atau naik 1, 11% jika dibandingkan dengan iklim pada September 2019.

Angka kemiskinan tersebut tertinggi dalam satu dekade final bahkan hampir menyamai kondisi Jakarta 20 tahun lalu (4, 96%). Penambahan penduduk miskin pada era ini disebabkan penurunan daya kulak masyarakat yang dipengaruhi kenaikan harga barang jasa dan kehilangan sumber pendapatan. (OL-5)

Related Post