Bank Syariah Indonesia Harus Berpihak di UMKM

Bank Syariah Indonesia Harus Berpihak di UMKM

DALAM jalan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia, pemerintah, melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), melakukan penggabungan (merger) tiga Bank Syariah BUMN, yaitu BRI Syariah, BNI Syariah, dan Bank Syariah Mandiri.

Pada 11 Desember lalu, ketiga bank itu resmi ditetapkan menjelma PT Bank Syariah Indonesia secara harapan akan memiliki modal luhur yang nantinya bisa naik kelas menjadi Bank Buku IV.

Melihat momentum baik ini, Rabu Hijrah bergerak sama dengan Forum Silaturahmi Menuntut Ekonomi islam (FoSSEI) menggelar Diskusi Internasional dengan tema Karpet Merah Bank Syariah Indonesia.

Baca selalu: BP Tapera Segera Kembalikan Dana Taperum PNS Pensiun

Diskusi itu diselenggarakan secara virtual di dalam Rabu (16/12), tepat satu keadaan setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BRISyariah yang menyetujui penggabungan, persetujuan agenda penggabungan, persetujuan akta penggabungan, pengesahan perubahan anggaran dasar, dan pengesahan susunan Direksi, Komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah Bank Hasil Penggabungan.

Adapun pembicara pada diskusi kali itu adalah Iman Sastra Mihajat, Oman Arab Bank; Wahyu Jatmiko, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) United Kingdom; Kindy Miftah, Young Islamic Bankers; Hendro Wibowo, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI); dan Arief Rosyid Hasan, Himpunan Pengusaha Muda Nusantara (HIPMI).

Sesuai arahan Menteri BUMN Erick Thohir, terkait merger Bank Syariah milik BUMN untuk penguatan ekonomi dan keuangan syariah, Arief Rosyid Hasan, dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang membuka pembahasan dengan mengatakan, “Merger Bank Syariah ini sudah diwacanakan sejak 2015. Melalui perjalanan panjang, alhamdulillah kita bisa sampai di hari ini. Merger Bank Syariah ini ialah langkah yang monumental dan kuno; bukan hanya bagi masa aliran perbankan Syariah di Indonesia akan tetapi juga di dunia. ”

Selain itu, Arief juga menambahkan bahwa, “Faktor lain yang akan mendukung akselerasi kemajuan Bank Syariah Indonesia ialah kekuatan milenial baik di di dalam maupun struktur tersebut. Di tepi itu, kita juga perlu terus mengembangkan potensi bank digital, dengan saya sebut dengan Bank 5. 0. Sudah saatnya dua bagian ini bersinergi dan mendukung pertambahan ekonomi Syariah kita. ”

Dalam kesempatan ini, Iman Sastra Mihajat dibanding Oman Arab Bank menyampaikan potensi merger Bank Syariah Indonesia pada kancah global.

Menurut Iman, Indonesia betul berpotensi untuk mengejar Top 10 Bank Syariah dunia apabila pemerintah menaruh fokus di situ.

“Jika Indonesia ingin masuk ke dalam Sempurna 10 Bank Syariah dunia, tak bisa berhenti di merger ke-3 bank syariah. Perlu ada transmutasi salah satu bank konvensional BUMN menjadi bank Syariah. Saya tahu langkah ini sangat positif. Merger ketiga bank syariah milik Himbara ini sudah masuk ke radar global, tinggal bagaimana kita memainkannya di pasar global nanti, ” ujarnya.

Terkait hal ini, Wahyu Jatmiko dari Masyarakat Ekonomi Syariah United Kingdom merespon, “Melihat dari perspektif United Kingdom, ada hal dengan unik dan relevan, yaitu concern terhadap aspek sustainability. Di United Kingdom sendiri, bank tidak melakukan benchmark dan tidak menganggap bank konvensional sebagai kompetisi. Hal ini dikarenakan, bank di sini (United Kingdom) tidak hanya melihat lantaran segi Islam tetapi juga pandangan hidup. ”

Di sisi lain, Hendro Wibowo dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) menambahkan, “Memang saat itu dari hasil merger ketiga bank Syariah ini belum bisa mencapai bank Buku IV, namun beta yakin dalam dua-tiga tahun kedepan bisa mencapai bank buku IV. Di sisi lain, saya berniat, Bank Syariah Indonesia nantinya tidak menjadi predator dari bank Syariah lainnya. Sebaliknya, merger ini mendatangkan efisiensi dan menggarap sektor dengan belum tersentuh. ”

Salah satu yang menjadi konsentrasi Bank Syariah Indonesia maupun bank Syariah pada biasanya adalah keberpihakan kepada UMKM.

Menanggapi kejadian ini, Kindy Miftah, Young Islamic Bankers menyampaikan, “Menjadi krusial untuk Bank Syariah Indonesia untuk memiliki produk Pembiayaan Rekening Koran Syariah untuk memberikan kemudahan bagi UMKM di Negara. ”

Pada akhirnya, bersatunya bank syariah milik BUMN menjelma Bank Syariah Indonesia diharapkan mampu selalu menjunjung semangat keberpihakan serta memberikan kemudahan bagi masyarakat. Tidak hanya sekedar narasi namun secara aksi. Secara jangka panjang, sinergi yang dibangun melalui Bank Syariah Indonesia niscaya dapat mewujudkan Indonesia menjadi pemimpin dalam ekonomi serta industri keuangan Syariah di ukuran global. (RO/OL-1)

Related Post