Bersekolah Kritis lewat Karya Sastra

Bersekolah Kritis lewat Karya Sastra

DALAM enam panel kotak di layar dalam jaringan (daring), enam siswi SMA beradu argumen. Sabtu (31/10) sore, tim SMA Binus School Serpong, Tangerang Selatan, dan tim SMA Global Jaya Bintaro, Tangerang Selatan, yang masingmasing beranggotakan tiga siswi itu ganti berganti melempar pertanyaan dalam perhimpunan debat sastra Salihara 2020. Kedua tim mempresentasikan hasil kajian kepada hikayat.

“Saat kami simak presentasi kalian, yang kami dapatkan belum dipahami secara keseluruhan adalah soal titel besar maskulinitas beracun. Di mana kita bisa mengetahui garis terang mengenai  maskulinitas beracun. Apakah tersedia maskulinitas yang positif dan  bentuk-bentuk seperti apa yang mewakili rumusan tersebut? ” tanya Thalia Valencia Tamahagana dari tim SMA Binus School Serpong pada tim SMA Global Jaya.

“Jadi, kami membahas mengenai maskulinitas beracun. Pada  kesimpulan, awak juga membahas bagaimana maskulinitas mampu memberikan efek pada lelaki pula, bukan hanya pada perempuan. Maskulinitas beracun ini tentu datangnya daripada masyarakat patriarkis, dari ide Durga dan Umayi, maskulin dan feminin, karena adanya konsep gender biner. Bahwa lelaki harus maskulin & perempuan harus tunjukkan sifat umayi, dalam arti nurut dan tunduk pada lelaki. Dengan adanya bentuk gender biner itu, yang meminta laki-laki harus selalu maskulin, dibanding situ muncullah maskulinitas beracun, ” jawab Tamara Nilakandi Long, dari tim SMA Global.

Itu merupakan kurang kilasan perdebatan yang muncul pada lomba debat sastra Komunitas Salihara, pekan lalu. Sebelum sore itu, Thalia bersama dua rekannya dibanding SMA Binus School Serpong, Faithrista Lavanya Loemongga dan Indyra Radhiyana Nur, sudah menghabiskan malam-malam lama untuk menyusun kajian sastra lantaran dua novel. Durga Umayi, karya YB Mangunwijaya, dan Perempuan di Titik Nol, novel masterpiece setia Mesir, Nawal El-Saadawi.

Kedua karya tulisan tersebut, meski berbeda latar sosial politik, sama-sama membahas mengenai rani dalam konstruksi patriarkat.

Perjuangan ketiganya kendati berbuah manis. Lewat makalah berjudul Menyintas Hidup dalam Gairah Kekuasaan, ketiganya dinobatkan sebagai juara mula-mula dalam debat sastra tingkat SMA yang  diadakan Komunitas Salihara.

Kelompok yang dipimpin Thalia itu akhirnya berhasil mengungguli tim dari SMA Global Jaya, yang juga tidak tangan menarik, dalam  menyajikan telaah berat mereka terhadap dua karya sewarna, dengan judul Patriarki dan Maskulinitas Beracun terhadap Perempuan dalam Budaya yang Menganut Sistem Patriarki.

“Kekuatan sistematika, fokus penggarap an yang mendalam dan tuntas menjadi keunggulan SMA Global Jaya. Sementara itu, gaya makalah kelompok SMA Binus School Serpong, ada pada  ruang buat refleksi. Mereka bisa menemukan relevansi antara teks dan konteks keadaan ini. Namun, mereka juga memiliki keunggulan secara keseluruhan dalam pikiran, jeli menemukan isu yang dipertajam, dan kuat secara konsep jadi unggul, ” kata Ni Made Purnama Sari, salah satu juri dalam malam pengumuman  pemenang, Sabtu (31/10).

Dalam kompetisi debat sastra tersebut, para peserta bukan sekadar menyusun makalah, peserta yang masuk final juga dituntut  mampu mengartikulasikan argumentasi mereka secara kontekstual.

Kompetisi ini rutin diselenggarakan Salihara tiap tahunnya sejak 2017. Tahun ini, setidaknya ada 47 makalah yang masuk sejak berbagai SMA di Indonesia. Setelah diseleksi dewan juri di periode pertama, yang terdiri atas penyunting Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Christina M Udiani, sastrawan Mario F Lawi, dan  esais Ni Made Purnama Sari, terpilih dua fi nalis dan lima naskah utama. Dalam babak final, Ni Made Purnama Sari masih menjadi juri bersama pengajar sastra dan tilikan budaya Universitas Indonesia (UI) Manneke Budiman serta novelis Dewi    Kharisma Michellia.

“Tentu kami membaca dulu dua buku yang dikaji. Ana berdiskusi dari yang didapat masing-masing, membahasnya, baru menyusun makalah. Awak bikin kerangkanya, melakukan pembagian perintah dengan tenggat yang telah disepakati, ” kata Thalia saat dihubungi Media Indonesia lewat telepon, Minggu (1/11).

Cara itu sama jauh secara yang ditempuh Mika Datyana beriringan kedua rekannya di SMA Ijmal Jaya, Diandra Malya Putri serta Tamara. Mika mengungkapkan, dia & kelompoknya memerlukan waktu untuk memahami isi cerita, tema besar, & isu yang diangkat dari besar karya sastra yang akan dikaji. Proses diskusi tidak pernah mangkir, sebelum akhirnya mereka menuangkan pikiran dalam makalah.

“Memilih topik, lalu menyusun tiga poin utama. Kami per mengerjakan satu poin dan silih membantu jika mengalami kesulitan. Tantangan terbesar pastilah memilih topik yang tidak  konvensional, tapi tidak menyimpang dari tema besar kedua rencana, ” kata Mika, Selasa (3/11).

Itu merupakan pengalaman kedua kali Mika bersama Tamara. Tahun lalu, keduanya juga mewakili sekolah mereka dalam kompetisi ini dan keluar sebagai juara kedua.

“Tahun lalu, acaranya live on the spot di gedung Masyarakat Salihara, penontonnya lebih sedikit, tapi rasa gugupnya masih sama. Walaupun akhirnya kedua pengalaman saya mengikuti kompetisi ini berakhir sama (tetap juara dua), tetapi saya benar bangga bisa menjadi finalis pikiran sastra dua kali  berturut-turut. ” 

Referensi

Kualitas kajian sastra yang ditulis kedua finalis, memiliki pujian Manneke Budiman, yang menurutnya mahasiswa sastra saja belum tetap bisa memproduksi kualitas telaah parah seperti itu. Hal ini tentu tidak terlepas dari proses panjang dalam penyusunannya. Masing-masing memiliki asas riset dan referensi yang cukup kuat.

Misalnya, Mika dan kedua rekannya banyak membaca artikel yang  bersentuhan dengan konteks dan latar kecil penulis karya yang dikaji. Bahan bacaan terkait dengan konsep feminisme, maskulinitas, dan filosofi pewayangan menjadi bekal yang dilahap. “Kami serupa membaca beberapa buku lain untuk pengetahuan tambahan, salah satunya buku Sapiens karya Yuval Noah Harari, ”  ucap Mika.

“Dari riset serta baca-baca yang kami lakukan, hamba dapat belajar banyak tentang berbagai sisi feminitas dan maskulinitas, dan bagaimana patriarki ataupun maskulinitas beracun itu menyakiti kedua pihak, tertib itu perempuan maupun laki-laki. Selain itu, saya juga banyak bersekolah tentang pewayangan, terutama tentang sejarah Dewi Umayi dan Batara Guru, ” tambah Mika.

Thalia dan kedua rekannya pun tidak kalah sungguh-sungguh. Selain referensi tentang konsep feminisme menjadi salah satu daftar tetap, mereka juga mengakses tulisan-tulisan mengenai teori kritis, kapitalisme, budaya, dan filosofi agama.

“Kalau aku sendiri bunga persiapannya dengan membaca beberapajudul, sesuai The Tough Standard-The Hard Truths about Masculinity and Violence (Ronald F Levant dan Shana Pryor), dan Marx, Critical Theory, and Religion — A Critique of Rational Choice (Warren Goldstein), ” kata Thalia.

Berputar kritis

Melalui proses mengkaji karya sastra, baik menurut Thalia maupun Mika, sepakat hal ini benar bisa diterapkan sebagai salah kepala proses dalam menumbuhkan kerangka bekerja kritis. Pasalnya, saat melakukan studi, ujar Mika, ada berbagai arah perlu dipertimbangkan, seperti dasar setia, konteks, dan penggunaan bahasa dengan spesifik. Terlebih, jika suatu susunan memiliki muatan isu dan tema yang cukup berat.

“Sebagai murid SMA, menurut saya, membaca ataupun memeriksa karya sastra itu sangat penting karena kita bisa mengasah kekuatan menganalisis, berpikir kritis, dan pula mendalami isu-isu yang  diangkat para penulis, ” kata Mika.

Sementara itu, Thalia menambahkan, kemauan untuk menyimak lawan bicara untuk mendapat laku perspektif dan melatih kepekaan hendak menumbuhkan daya kritisi kita di dalam melihat berbagai hal. (M-2)
 

 

Related Post