Gajah LHK Yakin PKPM Tanam Mangrove Seluas 16. 000 Hektare

Gajah LHK Yakin PKPM Tanam Mangrove Seluas 16

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) RI yakin dapat melakukan penanaman mangrove seluas 16. 000 hektare melalui Program Padat Karya Penanaman Mangrove (PKPM). Kesibukan tersebut merupakan perluasan target dari yang sebelumnya sekitar 15. 000
hektare.

Hal itu diungkapkan Gajah Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya ketika melakukan kunjungan kerja di Desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pada kunjungan tersebut, Menteri Siti juga melakukan penanaman mangrove bersama-sama masyarakat setempat, dan meninjau langsung pelaksanaan PKPM di wilayah itu.

“Saya ke sini incognito, artinya inspeksi ke lapangan, berdasarkan dari masukan kegiatan PKPM, saya ingin meneroka langsung pelaksanaan padat karya penanaman mangrove di sini, ” ujarnya, usai meninjau kegiatan PKPM di Desa Lontar, dan Desa  Ilalang yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Segara Biru, pada Sabtu (7/11).

Ia menjelaskan, pelaksanaan PKPM yang dilaksanakan sejak September lulus sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang  menargetkan penanaman mangrove seluas 15. 000 hektare.

“Setelah dicek lapangan, ternyata bisa mencapai 16. 000 hektare lebih. Kegiatan PKPM ini melibatkan lebih dari 35. 000 orang, atau bila dihitung dengan jumlah hari orang kegiatan (HOK) akan mencapai lebih dibanding 1, 5 juta HOK. Oleh sebab itu bisa dilihat, berapa  uang dengan digelontorkan Pemerintah untuk masyarakat, ” terang Menteri Siti.

“Tadi saya sudah cek, di sini satu keadaan mereka bekerja dari  jam 8 pagi sampai jam 4 sore, dan mendapatkan uang 80ribu/hari, dan uangnya langsung ditransfer ke rekening masyarakat masing-masing, ” lanjutnya.

Selain itu, ada juga kucuran dana untuk kelompok, yang  digunakan untuk pembinaan, dan untuk kegiatan lain di kelompok, misalnya untuk pengadaan bibitnya.

Pada wilayah lokasi yang menjadi bahan kunjungan kerja Menteri LHK, yakni di Kabupaten Serang, terdapat perut kelompok yang terlibat dengan mutlak luas sekitar 112, 43 hektare dengan sebanyak lebih kurang 8. 547 HOK.

Selain mendorong pemulihan ekonomi dan ekosistem mangrove, tujuan asing dari kegiatan PKPM adalah untuk membangun kepedulian
masyarakat terhadap kondisi ekosistem mangrove. Upaya rehabilitasi ekosistem mangrove salah satunya dapat  dilakukan dengan kegiatan penanaman mangrove.

Penyimpan karbon

Rehabilitasi mangrove tersebut diharapkan akan mengembalikan kehadiran vegetasi mangrove di daerah pesisir. Hal itu berfungsi sebagai daerah perlindungan pantai dari abrasi dan intrusi air laut, ancaman kesusahan alam, serta pergeseran batas  negara dan dampak perubahan iklim.

“Dengan perakarannya yang kuat hingga ke dalam, mangrove mampu menyerap dan mengemasi karbon di udara sampai 3-4 kali lipat
dibandingkan dengan hutan terestrial, ” tutur Gajah Siti.

Di samping itu, lanjutnya, negeri mempunyai kewajiban untuk mengurangi emisi karbon. Saat ini, usaha Nusantara dalam mengurangi emisi karbon itu, dapat dinilai dengan uang sebab dunia internasional.

“Jadi yang penting itu sekarang kita menanam mangrovenya dulu. Pemerintah tengah menyiapkan skema dan perhitungan yang tepat
supaya masyarakat mendapatkan nilai ekonomi karbon juga, ” katanya.

Menteri Siti mengungkapkan, kegiatan PKPM mendapat respons yang bagus. Pemerintah merencanakan akan memendam sampai 600. 000
hektare.

“Sekarang baru 15. 000 hektare, awal tahun ini akan 63. 000 hektare. Kita dapat melihat faktanya di lapangan, memang program tersebut baik dan berguna bagi kelompok, ” ungkapnya.

Terkait hal itu, Pemimpin Kelompok Tani Hutan (KTH) Lautan Biru, Fahruri mengatakan adanya PKPM sangat membantu perekonomian  masyarakat setempat. Bahkan, bila melihat kebutuhan, masih banyak di wilayahnya yang perlu ditanami mangrove.

“Mudah-mudahan program seperti itu bisa dilanjutkan, karena selain memajukan ekonomi masyarakat, tambak pun menjadi asri dan terlindungi dari pengikisan, ” katanya.  

Sementara itu, Dirjen Pengendalian DAS dan Rehabilitasi Hutan, Hudoyo, menjelaskan KLHK memperluas cakupan kegiatan Padat Karya (PK/cash for work) di 34 provinsi. Hal itu dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN) melalui kesibukan penanaman mangrove, senilai Rp406, 1 miliar untuk penanam seluas  15. 000 hektare.

“Program PEN Padat Karya Penanaman Mangrove ini bertujuan melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat pesisir, ” tuturnya.

Selain di penanaman, kegiatan padat karya pada setiap tahun dilaksanakan KLHK melalui rehabilitasi hutan dan lahan, pembuatan gedung sipil teknis konservasi tanah & air, pembuatan dan penanaman parak bibit rakyat (KBR), yang melibatkan masyarakat lebih dari 5, 9 juta HOK setiap tahun. (Fer/WB/S1-25)

Related Post