Golongan Aung San Suu Kyi kembali Berkuasa

Golongan Aung San Suu Kyi kembali Berkuasa

PARTAI Aung San Suu Kyi akan balik berkuasa untuk masa jabatan lima tahun lagi setelah mengamankan kemajuan yang diprediksi secara luas dalam pemilihan umum kedua di negara itu sejak berakhirnya kekuasaan militer penuh.

Menurut Komisi Pemilihan Umum, Partai Aung San Suu Kyi, Gabungan Nasional untuk Demokrasi (NLD), telah memenangi 346 dari 412 status yang diumumkan sejauh ini.

Oposisi dengan didukung militer Myanmar, Selasa, mengutarakan telah terjadi banyak peristiwa kontroversial selama pemilihan meskipun tidak ada bukti yang diberikan untuk menunjang klaim tersebut.

Pengamat internasional dan lokal belum melaporkan adanya penyimpangan gede. Ada sedikit keraguan bahwa NLD, yang telah mengklaim kemenangan di dalam Senin, akan kembali berkuasa. Aung San  Suu Kyi, yang melenyapkan sekitar 15 tahun dalam tangsi rumah atas perintah junta tentara, tetap sangat populer di kalangan mayoritas Barmar.

Di media sosial minggu ini, video menunjukkan para pendukungnya berkumpul di jalan untuk merayakannya hingga larut malam meskipun jam malam seharusnya diberlakukan untuk mencegah penyebaran virus korona.

Ada kekhawatiran pemilu dapat meningkatkan infeksi dan kelompok oposisi mengatakan pembatasan virus korona yang membatasi kampanye di kaum daerah belum ditegakkan secara sepatutnya.

Penetapan ini dikhawatirkan akan semakin memperparah perpecahan di dalam negeri, terutama kebencian dalam komunitas minoritas, dengan pernah menganggap Aung San Suu Kyi sebagai sekutu, tetapi  sekarang merasa dikhianati pemerintahnya.

Pemungutan suara dibatalkan untuk sekitar 1, 5 juta pemilih di daerah yang didominasi komunitas etnik minoritas, tampaknya karena masalah keamanan. Selain itu, sekitar 1, 1 juta Rohingya, yang tetap di kamp-kamp di Myanmar dan Bangladesh, juga terus ditolak  kewarganegaraannya dan dicabut hak memilihnya.

Penuh yang berharap pemilihan Aung San Suu Kyi pada 2015 mau membawa kebebasan demokrasi yang lebih besar, tetapi para pengkritiknya mengatakan bahwa dia telah gagal melahirkan reformasi atau membawa stabilitas.

Sementara itu, dia berjanji untuk memberikan perbaikan, konflik di beberapa bagian negeri, termasuk negara bagian Rakhine, semakin meningkat, dan kemarahan di kalangan minoritas meningkat. (Nur/The Guardian/I-1)
 

Related Post