Hiburan

hiburan-1

GRUP musik alternatif pop, Protocol Afro, namanya telah tidak asing lagi. Pelantun lagu “ Music (Dance With Me )”, “ Electrified ”, dan “ Serigala” ini telah meramaikan industri musik Indonesia sejak tarikh 2011.

Ketika banyak penyanyi, band, dan grup kritis dengan label besar dengan seringkali berseliweran di adang-adang kaca masih bermimpi untuk go international.

Justru Protocol Afro menjadi salah utama musisi Indonesia yang bertambah dulu bersinar di kancah musik internasional dengan merilis albumnya “The Youth” dalam Jepang pada tahun 2015 silam.

Setelah vakum dalam dunia musik cukup periode, karena kesibukan profesional per personel Protocol Afro, band asal Jakarta yang yang terdiri dari Rachmat, Giano Valentino, Mayo Falmonti, dan Greggina Talumewo ini langgeng semangat untuk memberikan kontribusinya terhadap komunitas musik Indonesia dengan merilis single hampir setiap tahunnya.

Selain Protocol Afro, beberapa lini kesibukan usaha lain juga dilakoni oleh beberapa personelnya.

Mayo Falmonti yang merupakan lupa satu co-founder Protocol Afro dan band indie dengan cukup dikenal di Tanah Air dengan nama “Reality club”.

Mayo juga merupakan anggota Peradi yang bergelut di bidang hukum sebagai konsultan hak dan kebesaran intelektual atau acapkali disebut IRP Consultant.

Giano Valentino merupakan lead guitarist dan music producer Protocol Afro, aktif di dunia sekuritas saham menjadi Financial Equity Consultant.

Greggina Talumewo yang kerap disapa Eggi itu, merupakan additional guitar player sejak pertama terbentuknya band Protocol Afro, merupakan serial entrepreneur di bidang F& B Indonesia.

“Dari zaman Greggina selalu menjadi additional player Protocol Afro sebab dia tidak menetap dalam Indonesia, ” ujar Mayo Falmonti.

“Jadi biasanya kalo Eggi sedang pulang liburan pasti dia sediakan zaman untuk manggung bareng Protocol Afro, baik itu posisinya sebagai additional Guitarist atau Keyboardist  pasti dia selalu sempatkan untuk gig bareng, ” papar Mayo.

Era ini, para personil Protocol Afro ini sedang mencari jalan untuk berkomitmen menyelesaikan side project terbaru mereka secara membentuk band baru bertanda “Wholesome Sunset”.

Untuk side project terbaru ini, ragam musik yang mereka geluti termasuk dalam kategori Dream Pop.

“Kalau Protocol Afro, genrenya terbilang “Inconsistent Pop”,   yaitu electronic , dan cenderung lebih ke indie rock. Itu karena ada penyimpangan dan overdrive , ” jelasnya.

“ Namun untuk Wholesome Sunset ini, soundnya lebih Pop, dan riff yang digunakan tidak high gain, tidak terlalu dominan dan sederhana saja. ” ujar Greggina Talumewo, yang merupakan lupa satu Co-founder Kopikalyan itu. (RO/OL-09).

Related Post