Hindari Kerumunan, Mobil Dimodifikasi Jadi Swab Mobile

Hindari Kerumunan, Mobil Dimodifikasi Jadi Swab Mobile

DOSEN serta mahasiswa Fakultas Sains dan Cara Universitas Nusa Cendana (Undana) Ketepeng, Nusa Tenggara Timur, memodifikasi mobil menjadi kendaraan operasional pengambilan swab . Kendaraan itu dimodifikasi untuk mendukung Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat yang diresmikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Jumat pekan lalu.

“Ide ini berawal daripada bagaimana kita melakukan tes swab massal tetapi tidak mengumpulkan orang, ” kata Kepala Laboratorium Teknik Instrumen Fakultas Sains dan Teknik Undana, Ben Tarigan, Selasa (20/10).

Selain itu, jika dilakukan tes swab massal dalam laboratorium di rumah sakit, mau terjadi kerumuman orang. Di bagian lain, tidak semua orang bakal menjalani swab test di rumah rendah karena tidak memiliki moda transportasi.

“Karena itu, kami berpikir bagaimana mobil yang datang ke sana sehingga memangkas biaya dan juga karakter rela mau di- swab , ” ujarnya.

Dalam mobil dengan dimodifikasi tersebut terdapat bilik pemungutan swab yang juga merupakan hasil susunan dosen dan mahasiswa. Ada juga lemari pendingin untuk menyimpan contoh swab , AC, generator, tempat penyimpanan bahan menjilat cadangan, tempat sampah, dan lubang ventilasi.

Menurut Tarigan, mobil swab beroperasi di berbagai tempat, seperti kawasan penduduk, pelabuhan, maupun bandara. “Bisa membawa sekaligus sampel swab penumpang dibanding empat pesawat, ” ujarnya.

Moderator Wadah Academia NTT Dominggus Elcid Li mengatakan mobil tersebut membawa contoh swab yang kemudian dibawa ke Lab. Biologi Molekuler Kesehatan Masyarakat pada Klinik Fakultas Kedokteran Undana di Jalan Soeharto, Kupang.

Forum Academia NTT merupakan kumpulan akademisi dari bermacam-macam disiplin ilmu yang melontarkan pendapat pembangunan laboratorium untuk tes swab massal yang kemudian bekerja cocok Pemprov NTT dan Universitas Undana. Ide ini antara lain dilontarkan anggota Forum Academi NTT yang juga pakar biomolekuler pertama pada Indonesia Fima Inabuy, pakar genetika Alfredo Kono, sosiolog Elcid Li, epidemiolog Ermi Ndoen, dan pendidik FISIP Undana Rudi Rohi. (OL-14)

Related Post