Kaki-Kaki Kita

Kaki-Kaki Kita

WARGA positif korona terus bertambah menembus angka 95 ribu. Hal itu berlaku pekan lalu. Penyebabnya, warga tidak disiplin menaati protokol kesehatan.

Benarkah? Maaf, barangkali kita tidak mengenal kelompok kita. Meminjam sebuah ekspresi, “Kita tak dapat menemukan kaki-kaki kita bersama mereka. ”

Kaki tidak diciptakan untuk tegak di awang-awang. Tangan kursi tegak di lantai. Kaki meja pun demikian. Kaki pribadi tegak di bumi. Bahkan berjejak. Adakah jejak kita bersama bangsa? Barangkali kita tak menemukannya, karena kaki-kaki kita tak bersama itu.

Sepadan hari ada warga merebut jenazah korban korona dari dalam kotak mati di sebuah ambulans. Jenazah hendak dibawa ke permakaman. Apa makna peristiwa ini? Kiranya jauh ‘melampaui’ disiplin kepatuhan pada aturan kesehatan.

Barangkali di situ bersemayam ketidakpercayaan bahwa jenazah telah diperlakukan pantas kewajiban agama. Jenazah direbut untuk dibawa ke rumah, dimandikan, dikainkafani, disembahyangi, dan penuh keikhlasan menguburnya.

Apakah mereka yang merampas jenazah tak takut mati tertular korona sejak yang mati? Pertanyaan ini pun kiranya pertanda barangkali kita tidak mengenal masyarakat kita.

Orang bijak sejumlah untuk mengerti kematian, Anda kemaluan mengerti kehidupan. Perbuatan merebut jenazah kiranya menunjukkan penger-
perut yang berbeda, yang sebaliknya. Buat mengerti kehidupan, Anda butuh memafhumi kematian. Pengertian yang barangkali tidak kita kenal hadir di sedang masyarakat kita.

Suatu hari menjelang Lebaran orang dilarang mudik. Mudik dalam pengertian pulang ke kampung halaman. Ribuan orang melanggarnya. Apakah itu tak tahu perihal larangan itu? Tahu. Pulang kampung di masa Lebaran ialah ritual kultural yang tak bisa lain harus dijalani. Bukankah gara-gara ritual itu mampu menyebarkan korona ke kampung halaman? Kenapa nekat? Lagi ini pertanyaan yang menunjukkan barangkali kita tidak mengenal masyarakat kita.

Di dalam tumbuh kita sehari-hari ‘melarang’ kiranya lebih mudah daripada ‘menegakkan larangan’. Pada sebuah tempat ‘Dilarang Merokok’, ada saja orang merokok di situ. Pelakunya bukan buta aksara, bukan pula buta simbol.

Merokok bukan juga perkara substansial, yakni ritual kultural atau ritual kepercayaan, yang bila tak dilakukan menyebabkan orang semacam berutang kepada sebuah tradisi. Berantakan bagaimana menjelaskan, anak bangsa ini begitu patuhnya pada larangan merokok ketika berada di Singapura?

Barang kala bukan hanya kita tidak mengenal masyarakat kita. Kita pun tidak mengenal kita. Tak mengenal ‘kita’ kiranya membuat ‘kita’ mudah menghasilkan ‘proyeksi’ untuk ‘mereka’. Setelah PSBB diberlakukan, suatu hari (5 Juni 2020), Gubernur DKI Jakarta membatalkan masa transisi. Empat belas keadaan kemudian (19 Juni), transisi itu menjadi transisi kedua. Empat patos hari setelah itu (2 Juli), transisi kedua diperpanjang lagi menjadi transisi ketiga. Lalu, 14 keadaan setelahnya (17 Juli), diperpanjang sedang menjadi transisi keempat.

Alasannya, warga membangun korona bertam- bah banyak. Dalam hal ini ada dua urusan. Pertama, kita tidak mengenal umum kita. Kedua, pembuat kebijakan pula tidak mengenal ‘kita’ (dalam mengumumkan masa transisi, Gubernur Jakarta selalu menggunakan kata ‘kita’).

Dalam hal yang pertama, barang kali ‘transisi’ diartikan sebagai ‘pelonggaran’. Arti yang mampu jauh sekali penerapannya. Di di masyarakat yang lebih mudah melarang daripada menegakkan larangan, kiranya ‘pelonggaran’ bersaudara dekat sekali dengan ‘kebebasan’.

Lihatlah warga yang mengenakan masker. Masker itu melindungi dagunya, bukan menyimpan mulutnya, bukan pula hidungnya–dua bagian pernapasan tempat masuknya korona.

Hal dengan kedua, pembuat kebijakan ialah kita yang tidak mengenal kita. Siapa pun pemimpin yang dipilih rakyat, kiranya mengandung pengertian ‘dari kita untuk kita’ yang dicerminkan meniti kebijakannya. ‘Transisi’ mengandung makna ‘bersifat sementara’. Asal kata itu yaitu ‘transition’ (Latin), antara lain penting ‘penyeberang an (ke pihak lain)’.

Ini lah penyeberangan yang sifatnya sementara daripada pandemi ke kehidupan yang wajar. Yang terjadi ialah bukan penyeberangan, melainkan berjalan di tempat apalagi mundur.

Kita memang bukan penganut kebijaksanaan garis keras prokesehatan publik. Kita memadukan kebijakan prokesehatan dan propemulihan ekonomi. Kebijakan ‘transisi’ ialah kebijakan bermaksud mulia yang mengandung suruhan jika kita disiplin pakai masker, disiplin jaga jarak, disiplin basuh tangan dengan sabun, kita bahan sampai ke ‘seberang’, yakni tubuh kita sehat, pun ekonomi kita. Akan tetapi, inilah kemuliaan pada atas asumsi bahwa kita memahami masyarakat kita. Kenyataannya, ‘kita tidak dapat menemukan kaki-kaki kita bersama-sama mereka’.

Suatu hari, Presiden bersuara cepat. Katanya, uang pemerintah daerah pada bank masih ada Rp170 triliun. Dalam resesi belanja, pemerintah berperan sangat penting menggerakkan perekonomian. Kenapa, masih ada pemerintah daerah dengan tak satu perasaan dengan kita? Bukankah kepala daerahnya dipilih sebab ‘kita’, yakni rakyat setempat?

Pertanyaan itu pun lagi-lagi menunjukkan kita tidak mengenal masyarakat kita. Kita kendati tidak mengenal pemimpin kita. Sesungguhnya ‘kita tak dapat menemukan kaki-kaki kita bersama mereka’.

Related Post