Riset belum Berdampak, LIPI: Peneliti Berkualifikasi S-3 Sedikit

Riset belum Berdampak, LIPI: Peneliti Berkualifikasi S-3 Sedikit

KEPALA Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan, lambatnya kemajuan penelitian di Indonesia disebabkan oleh kurangnya sumber daya bani adam (SDM) unggul. Diperlukan upaya keras untuk terus konsisten melakukan perubahan SDM agar sesuai standar ijmal.

“Rasio peneliti berkualifikasi minimal S-3 dengan masih sedikit, yaitu 15%. Meski di institusi tertentu seperti LIPI sudah cukup tinggi (sudah 50%), tetapi masih di bawah pengampu global, ” kata Laksana kepada Media Indonesia, saat menanggapi perkara minimnya dampak riset terhadap kebijakan pemerintah.

Untuk itulah, sahut Laksana, pihaknya sudah merekrut peneliti baru secara kualifikasi minimal S-3 baik lantaran dalam maupun luar negeri. LIPI menargetkan, sampai 2024 mendatang akan memiliki 70% peneliti berkualifikasi S-3 dengan jejaring dan pengalaman global.

Selain jumlah SDM peneliti, Kepala Bagian Penelitian, Pengembangan dan Inovasi KLHK Agus Justianto mengungkapkan, tantangan dengan dihadapi dunia penelitian saat ini adalah menarasikan hasil riset agar bisa menjadi bahan masukan kebijaksanaan pemerintah.

Ia pun berharap, hal itu terwujud seiring dengan implementasi merger lembaga riset di kementerian dan lembaga sesuai dengan amanat Peraturan (UU) Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Wawasan dan Teknologi (Sisnas Iptek).
 
“Dengan mengumpulkan pada satu wadah organisasi lembaga-lembaga yang terkait dengan kerisetan, harapanya mau lebih fokus dalam melakuka kegiatan ilmiah dan inovasi, ” ucapnya.

Sebelumnya, ilmuwan  spesialis  forensik  kebakaran  hutan  Indonesia  Bambang Hero Saharjo melahirkan hasil riset  yang  terpakai  dan  tepat  guna  di  Indonesia  jumlahnya  tidak mencapai 20%. Tak ganjil, dampak  riset  terhadap  kebijakan  pemerintah masih minim. Salah satu kendalanya, ungkap Bambang, karena  masalah  waktu  dan  dana.

“Dalam satu tahun untuk penelitian saja perlu waktu 10 sampai 11 bulan, misalnya. Tatkala bujet penelitian itu baru diterima pada bulan ke-4 atau ke-5, ” ungkap Guru Besar Pengetahuan Kehutanan IPB University yang pernah meraih penghargaan anugerah sains bergengsi John Maddox Prize 2019.

Soal  administrasi  keuangan  juga  menjadi  kendala.   Bambang  mengatakan  peneliti  harus  menyiapkan  bukti  pengeluaran dengan sekian rangkap dan tidak boleh salah. Administrasi  keuangan  tersebut  yang  juga  harus  berpacu  dengan  selesainya penelitian yang akan dilakukan. (H-2)

Related Post