Tingkatkan Partisipasi Pilkada, KPU Kaji Kotak Suara Keliling

Tingkatkan Partisipasi Pilkada, KPU Kaji Kotak Suara Keliling

PEMANGKU Harian Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra menuturkan pihaknya tengah mengkaji aturan hukum melanda dimungkinkannya kotak suara keliling untuk pemungutan pemilihan suara kepala wilayah (pilkada) serentak 2020.

Kotak suara putaran, ujarnya, dapat menjadi opsi untuk pemilih berusia lanjut yang kemungkinan besar terlalu berisiko apabila datang langsung ke tempat pemungutan suara (TPS).

“Usia 45 tahun ke atas diimbau tidak terlalu sering keluar vila untuk mencegah terpapar virus Korona. Bagi lansia yang berada di rumah dan tidak bisa pegari ke TPS, kami sedang menyusun tentang kotak suara keliling, ” ujar Ilham dalam diskusi bertajuk “Evaluasi Metode dan Isu Manuver Pilkada di Masa Pandemi” yang digelar oleh Lembaga Hikmah serta Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah, Rabu (21/10).

Kotak suara keliling, nyata Ilham, diatur dalam Undang-Undang No 7/2017 tentang Pemilu, tetapi tak diatur dalam UU No. 10/2016 tentang Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota (UU Pilkada). Oleh karena itu KPU sedang mengkaji terobosan hukum dengan dapat dilakukan agar hak konstitusional masyarakat dalam memilih kepala daerah tetap terpenuhi di tengah pandemi.

Baca juga:   DPR Optimistis Target Partisipasi Pemilih Pilkada 2020 Tercapai

“Bagaimana terobosan hukumnya dan akan lakukan diskusi fokus persekutuan mengenai hal itu. Kalau kita tidak melakukan hal ini berguna tidak memfasilitasi hak konstitusional asosiasi, ” papar Ilham.

Selain itu, Petunjuk mengungkapkan, KPU sedang memikirkan cara supaya para pasien yang terpapar virus Covid-19 dan tengah melaksanakan karantina atau perawatan di sendi sakit juga dapat memilih pada 9 Desember 2020. Saat pemilu atau pilkada di tengah situasi normal, ujar Ilham, petugas mendekati pemilih yang tidak bisa pegari langsung ke TPS seperti mereka yang dirawat di rumah melempem.

“Bagaimana dengan OTG memungkinkan enggak, kita masuk ke rumah yang menjadi rujukan pemerintah apa perlu memakai hazmat atau tidak. Ini sedang kita kaji melihat dari Departemen Kesehatan sepertinya sulit masuk ke RS untuk teman-teman OTG, ” tukas Ilham. (OL-7)

Related Post