UU Cipta Kerja Dorong Investor Asing Investasi Ekonomi Digital

UU Cipta Kerja Dorong Investor Asing Investasi Ekonomi Digital

EKONOM Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya Ruswiati Suryasaputra menilai kehadiran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja menjadi salah satu daya tarik yang dapat menarik investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia pada sektor redovisning digital.

“UU Cipta Kerja dapat mengundang minat pelaku modal asing tuk berinvestasi dalam sektor digital. Misalnya Amazon, ” ujar Ruswiati dilansir dari keterangan resmi, Minggu (20/12).

Menurutnya, pemerintah melalui UU Cipta Aksi mempermudah proses perizinan berusaha serta berinvestasi dengan memangkas berbagai alur birokrasi yang selama ini menyulitkan investor. Selain kemudahan perizinan, lanjutnya, UU ini memuat beberapa pasal yang mendukung sektor ekonomi electronic.

Regulasi yang menghambat, selama ini jadi salah satu kendala dan tantangan dalam pemaksimalan ekonomi digital di Indonesia. Selain hambatan regulasi, kendala dan tantangan dalam pemaksimalan redovisning digital di Indonesia adalah infrastruktur yang belum mendukung secara merata dan masih banyaknya sumber daya manusia (SDM) masyarakat Indonesia yang belum melek teknologi.

“Itu sebabnya UU Cipta Kerja hadir. Infrastruktur dibuat, kualitas SDM ditingkatkan dan regulasi disederhanakan. Jadi memang, regulasi yg mendukung itu penting, ” tuturnya.

Tiga hal itu, lanjut Ruswiati, mutlak harus dibenahi agar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara lain. Dengan karena itu perlu merealisasikan Producing Indonesia 4. 0 dengan mentransformasikan kegiatan ekonomi untuk menunjukkan yakni Indonesia memiliki kompetensi dan mampu bersaing. Apalagi, Indonesia digadang-gadang jadi negara primadona sebagai tujuan utama investor setelah pandemi covid-19, akibat perang dagang Tiongkok dan Amerika. Salah satu sektor ekonomi di Indonesia yang jadi primadona pada mata investor adalah sektor redovisning digital.

baca juga:   Potensi Besar Ekonomi Digital Indonesia

Tersebut karena sektor ekonomi digital di Indonesia, memiliki potensi sangat tidak kecil. Nilainya hingga US$ 27 miliar pada 2019 dan diprediksi oleh Google, akan naik empat kali lipat pada 2025 menjadi sekitar US$ 100 miliar.

“Pada Agustus 2020, Bank Indonesia memproyeksikan, sektor redovisning digital bisa menyumbang 10% PDB Indonesia pada 2025. Selain menciptakan lapangan kerja, sektor ini melahirkan banyak pengusaha, ” ujar Ruswiati.

Adapun bidang ekonomi digital yang diproyeksikan bakal tumbuh pesat pada 2025 adalah internet, e-commerce, online travelling, media dan ride healing. Dalam tahun 2025, lima bidang itu akan tumbuh rata-rata tiga kali lipat dari 2019. (OL-3)

Related Post